Minggu, 03 Juni 2012

5 Tips Berinvestasi Saat IPO

Ketika terjadi dotcom mania, setiap kali investor menanamkan uangnya untuk sebuah IPO, hampir dapat dipastikan hasilnya akan mematikan.  Banyak sekali perusahaan, yang memperoleh keuntungan besar dalam sehari, namun berakhir mengecewakan bagi investor jangka panjang. Investor yang berencana untuk masuk dan keluar dalam jangka panjang di perusahaan-perusahaan itu, melihat investasi sebagai keputusan yang mudah.

Kendati demikian, tak ada investasi yang benar-benar pasti. Dengan cepat, gelembung saham teknologi pecah dan pasar IPO kembali normal. Dengan kata lain, investor tak dapat mengharapkan keuntungan dua atau tiga dijit seperti yang pernah diperoleh pada awal IPO saham teknologi. Investor masih bisa menghasilkan uang dari IPO, namun fokusnya harus digeser dari keuntungan cepat ke prospekjangka panjang. Daripada mencoba menghasilkan uang dari pantulan harga saham, kini investor cenderung lebih hati-hati meneliti prospek jangka panjang.

Meskipun berfokus jangka panjang, namun menemukan IPO yang bagus tidaklah mudah. IPO mempunyai banyak keunikan risiko yang membuatnya berbeda dengan rata-rata saham yang telah diperdagangkan. Jika memutuskan untuk mengambil kesempatan dari IPO, ada lima hal yang perlu diperhatikan.

1.       Riset yang objektif adalah komoditas langka
Mendapatkan informasi perusahaan yang akan go public perlu kerja keras. Tidak seperti pada umumnya perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan, perusahaan privat tidak mengundang kerumunan analis untuk berusaha mendapatkan bocoran rahasia perusahaan. Patut diingat bahwa meskipun sebagian besar perusahaan berusaha untuk membuka sepenuhnya informasi dalam prospektus mereka, namun informasi itu masih ditulis oleh mereka sendiri dan bukan oleh pihak ketiga yang tidak bias.

Carilah informasi di internet mengenai perusahaan itu dan kompetitornya, keuangan, pers rilis di masa lalu, demikian pula kesehatan keseluruhan industri. Meskipun info yang penting sangat jarang, mempelajari sebanyak mungkin tentang perusahaan itu merupakan langkah penting agar bijak berinvestasi. Sebaliknya, riset yang Anda lakukan kemungkinan akan menghasilkan temuan bahwa prospek perusahaan itu digelembungkan, dan tidak mengambil kesempatan berinvestasi di perusahaan itu adalah pilihan terbaik.

2.       Pilihlah perusahaan dengan broker yang kuat
Berusahalah untuk memilih perusahaan yang memiliki penjamin efek (underwriter) yang kuat. Bukan berarti bank investasi besar tak pernah menawarkan perusahaan yang jelek, namun secara umum, broker berkualitas akan menawarkan perusahaan publik yang berkualitas. Bersikaplah lebih waspada ketika memilih broker yang lebih kecil, karena bisa jadi mereka akan bersedia menjamin perusahaan apa pun.

Namun demikian, salah satu faktor positif broker yang lebih kecil adalah karena basis klien mereka yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah bagi investor individu untuk membeli saham pra-IPO (meskipun hal ini juga bisa menimbulkan masalah seperti akan dijelaskan kemudian). Waspadalah, karena sebagian besar perusahaan broker besar tak akan memperkenankan Anda untuk berinvestasi pertama kali di IPO. Hanya investor individu yang telah lama menjadi pelanggan (dan seringkali dengan nilai neto yang tinggi) yang boleh ikut berinvestasi IPO.

3.       Selalu membaca prospektus
Kami telah berkali-kali mengingatkan agar tidak menyerahkan nasib Anda di saham, namun jangan lewatkan untuk membaca prospektus. Mungkin terasa garing, namun prospektus menampilkan risiko dan peluang perusahaan, demikian pula tujuan penggunaan dana hasil IPO. Contoh, jika uang tersebut akan digunakan untuk membayar utang, atau membeli ekuitas dari pendiri atau investor pribadi, berhati-hatilah! Ini adalah isyarat buruk bahwa perusahaan itu tidak mampu membayar utangnya tanpa menerbitkan saham. Uang yang akan digunakan untuk riset lebih lanjut, menggiatkan pemasaran, atau perluasan ke pasar baru memberikan gambaran yang lebih baik. Sebagian besar perusahaan telah mempelajari bahwa janji yang berlebihan dan tidak sesuai harapan adalah kesalahan yang banyak dibuat oleh mereka yang berlomba-lomba ingin mendapatkan sukses pasar. Oleh karena itu, satu hal terpenting yang perlu diperhatikan ketika membaca prospektus adalah prospek keuntungan di masa datang yang terlalu optimistik. Artinya, bacalah proyeksi angka-angka akuntansi dengan lebih berhati-hati.

Anda bisa meminta prospektus dari broker yang menawarkan saham perusahaan ke publik.

4.       Waspadalah
Bersikap skeptis adalah sifat yang positif untuk berhasil di pasar IPO. Seperti disebutkan sebelumnya, selalu banyak ketidakpastian di sekitar IPO, terutama karena kurangnya informasi yang tersedia. Oleh karena itu, Anda perlu selalu berhati-hati untuk bertransaksi IPO.

Jika broker Anda merekomendasikan IPO, Anda perlu berusaha untuk meningkakan kewaspadaan. Ini adalah indikasi yang jelas bahwa sebagian besar institusi dan manajer keuangan telah menolak dengan halus tawaran penjamin emisi untuk menjualkan saham. Dalam situasi ini, investor individual cenderung berada di titik terbawah, yaitu sisa saham yang tidak diinginkan ‘para pencetak uang besar’. Jika broker Anda berusaha keras menawarkan sahamnya, kemungkinan ada satu alasan dibalik tingginya jumlah saham yang tersedia. Hal ini mempunyai arti penting: meskipun jika Anda menemukan perusahaan yang akan go public yang dianggap sebagai investasi yang berharga, besar kemungkinan Anda tak akan mendapatkan saham itu. Broker mempunyai kebiasaan menyimpan alokasi IPO yang mereka miliki untuk pelanggan favoritnya. Kecuali Anda ingin berinvestasi besar, besar kemungkinan Anda tak akan mendapatkannya.

5.       Pertimbangkan masa tunggu hingga periode lock-up berakhir
Periode penguncian saham (lock-up) adalah satu kesatuan kontrak legal (tiga hingga 24 bulan) antara penjamin emisi dan orang dalam (insider) perusahaan yang melarang mereka untuk menjual sahamnya selama periode tertentu.  Ambil contoh, Jim Cramer, yang terkenal lewat The Street.com (TSCM) dan program CNBC “Kudlow and Cramer.” Saat harga saham TSCM mencapai puncaknya, nilai sahamnya mencapai berpuluh-puluh juta dolar. Kendati demikian, Cramer, mengetahui bahwa harga tersebut sudah terlalu tinggi (overpriced) dan akan segera menghujam ke bumi. Karena hal itu terjadi dalam periode saham terkunci (lock-up), maka meskipun Cramer sangat ingin menjualnya, secara legal dia dilarang melakukannya. Ketika periode lock-up berakhir, pihak-pihak yang sebelumnya dibatasi, diperbolehkan untuk menjual saham mereka.

Intinya adalah, menunggu hingga orang dalam (insiders) bebas untuk menjual sahamnya bukanlah strategi yang buruk, karena jika mereka melanjutkan untuk menahan sahamnya setelah periode penguncian berakhir, ini akan menjadi indikasi bahwa perusahaan itu mempunyai masa depan yang cemerlang dan berkelanjutan. Selama periode penguncian, tidak mungkin untuk mengetahui apakah insiders pada kenyataannya senang untuk mengambil dengan harga pasar saham saat itu, atau tidak.

Biarkan pasar melakukan tugasnya sebelum Anda menceburkan diri. Perusahaan yang bagus akan tetap menjadi perusahaan yang bagus, dan investasi yang berharga, bahkan setelah periode lock-up berakhir.

Kesimpulan

Bukan berarti kami menganjurkan bahwa semua IPO harus dihindari: beberapa investor yang membeli saham dengan harga IPO telah mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari perusahaan-perusahaan yang kurang meyakinkan. Setiap bulan ada saja perusahaan yang berhasil ketika go public, namun bukan hal mudah untuk menyaring perusahaan-perusahaan gurem dan menemukan investasi yang paling potensial. Sebaiknya diingat bahwa ketika berurusan dengan pasar IPO, investor skeptikal dan mempunyai informasi yang cukup, cenderung untuk mendapatkan hasil yang lebih baik daripada investor yang kurang peduli.

Sumber: www.investopedia.com

0 komentar:

Posting Komentar