Selasa, 18 Desember 2012

Puspiptek Mulai Terbuka Bagi Industri

AKARTA, KOMPAS.com- Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) yang selama ini bersifat eksklusif mulai terbuka bagi masuknya industri untuk melakukan kemitraan riset di kawasan itu.
Untuk itu Puspiptek dikembangkan menjadi kawasan pengembangan iptek terpadu bernama Indonesia Science and Technopark.           Hal ini disampaikan Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, terkait dengan program revitalisasi pusat riset tersebut untuk mendukung Masterplan Program Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia.
Dalam mengubah Puspiptek menjadi areal yang memungkinkan terjadinya sinergi antara lembaga riset pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, tim dari Kemenristek telah melakukan studi banding ke Daejeon Korea Selatan, Hsinchu Taiwan, dan Munchen Jerman.
Technopark di negara tersebut memiliki tiga atau empat komponen pendukung yaitu akademisi, pebisnis, pemerintah dan komunitas profesi atau praktisi.
Saat ini Puspiptek telah menjaring lembaga Riset, perguruan tinggi, dan Pemerintah Daerah. Kekurangannya belum ada kemitraan riset dengan pihak industri. “Sampai saat ini industri belum tertarik masuk di Puspiptek, walaupun untuk itu disediakan insentif,” ujar Wisnu Sardjono, Kepala Puspitek.
Hal ini karena industri umumnya telah memiliki pusat riset sendiri yang lebih diandalkan. “Bagi perusahaan multinasional, mereka hanya menempatkan pabrik di Indonesia,” ujar Wisnu.
Selain Puspiptek, menurut Deputi Menristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek Teguh Rahardjo, ada tiga daerah lain yang kini juga tengah dikembangkan menjadi techopark yaitu Bandung, Cikarang, Solo, dan Batam.
Seperti juga Puspiptek Serpong, daerah tersebut juga belum memiliki komponen pendukung yang lengkap. Di Bandung misalnya ada Bandung Technopark yang belum mendapat dukungan dari Pemda setempat.
Wisnu yang juga Asisten Deputi Menristek bidang Jaringan Penyedia dan Pengguna Iptek, pengembangan technopark harus berbasis pada keunggulan yang khas.
Puspiptek misalnya dapat dikembangkan menjadi pusat riset teknologi informasi dan komunikasi dan bioteknologi. Untuk itu bekerja sama dengan Kemkominfo, akan didirikan laboratorium uji telekomunikasi yang aka menjadi rujukan nasional.
Sementara itu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang berada di bawah koordinasi Kemenristek, juga membantu pemerintah daerah mengembangkan teknopolitan, kota berbasis teknologi. Sebagai model teknopolitan dipilih Kabupaten Pelalawan Riau.
Pengembangan teknopolitasn Pelalawan di areal seluas 2.000 hektar, ujar Husni, akan berbasis kelapa sawit dan gas alam yang menjadi produk unggulan daerah tersebut.
Selain Pelalawan, teknopolitan akan dibangun di Pekalongan Jawa Tengah yang berbasis industri batik, Gresik Jawa Timur yang unggul di bidang keramik dan Anambas Kepulauan Riau untuk perikanan dan wisata bahari.
Menurut Husni, pembangunan teknopolitan relatif lebih mudah di daerah yang baru tumbuh. Karena di wilayah tersebut,  pelaksanaan tata ruang dapat dilaksanakan sesuai rencana pengembangannya.

0 komentar:

Posting Komentar