Minggu, 26 September 2010

I Know What You Did On Millist?

Dalam kamus psikulogi, Dictionary of Beahavior Science menyebutkan ada enam pengertian dari komunikasi itu. Dan dari salah satu pengertiannya itu, adalah penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme. Karena itu dengan komunikasi kita membentuk saling pengertian dan menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan dan melestarikan peradaban. Tetapi dengan komunikasi kita juga bisa menyuburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanam kebencian, mencintai kemajuan dan menghambat pemikiran.

Sehingga begitu sangat pentingnya, begitu meluas dan begitu akrab komunikasi dengan diri kita sehingga kita semua merasa pula lagi mempelajari komunikasi. Halnya pun dengan media yang bernama millist yang saat ini lagi marak di dunia maya ini. Millist menurut kacamata minus saya (maklum karena sampai saat ini saya masih berkacamata minus). Adalah sebuah wadah forum interaksi di dunia maya. Dimana kita saling berbagi, curhat (baca:curhatan hati) sesama user millist, dan saling berbagi informasi kepada khalayak pada umumnya pengguna millist. Sehingga akan terjadi saling interaksi sesama pengguna media tersebut. Lalu bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan bahkan sampai mengharukan hingga hal pencemaran nama baik dalam wadah media interaksi dunia maya itu—yang sering kita sebut millist itu bila terjadi? Hmm…menurut saya hal ini mengingatkan saya pada seorang ibu rumah tangga beranak dua anak itu. Prita Mulyasari, begitu nama ibu muda dua anak itu—yang namanya sempat membuat heboh diberbagai media massa. Entah, di media massa, surat kabar maupun di televisi.

Bukan! Bukan! Bukan itu yang menghebohkan namanya. Bukan karena kecantikannya, bukan karena prestasinya apalagi bukan karena ia seorang pejabat yang tersangkut korupsi. Bukan itu yang menyebabkan kehebohan seorang Prita Mulyasari diberbagai media massa.

Hanya karena sebuah keluhannya ketika ia dirawat di salah satu Rumah Sakit berkapasitas International. Surat atau tulisan yang semula hanya ditujukan ke beberapa temannya itu ternyata beredar ke pelbagai millist dan di dunia maya, internet dan—diketahui oleh pihak manajemen Rumah Sakit itu. Sehingga sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit berskala Internasional itu. OMG (baca: o-em-ji!) hingga membuat jantung saya sampai lompat.

Sebegitunyakah? Hanya karena sebuah keluhan atau sebuah uneg-uneg seorang ibu muda beranak dua ketika ia di rawat di sebuah Rumah Sakit. Sehingga ia divonis terbukti melanggar Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang isinya, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Sungguh saya yang melihat membaca dan melihat diberbagai media tentang berita itu saya sempat terharu. Bahkan mata saya sempat berkaca-kaca.

Terus terang saya ketika melihat dan membaca berita itu merasa prihatin dan bersimpati. Saya rasa hal itu tak pernah terjadi dan tak layak terkena saksi hukuman seberat itu, hingga sampai masuk penjara.

Tapi dengan ada hal itu mungkin kita sebagai yang bergelut di dunia maya. Entah, baik yang menggunakan jejaringan sosial Facebook (baca: FB), berbagai blogg (Multiply, Bloggspot, Word Press, My Space dll) maupun media millist terutama. Kita sebagai pengguna media tersebut seharusnya perlu mengontrol diri, intropeksi diri dan menjadikan hikmah untuk kita semua, khususnya saya pribadi. Janganlah peristiwa yang dialami seorang Prita Prita Mulyasari bisa menimpa siapa saja, kita, Anda semua maupun saya khususnya yang suka sekali berselancar di dunia maya. Entah, FB, berbagai blogg maupun millits. Karena saya adalah seorang penulis dan mahasiswa yang kapan saja membutuhkan berita dan informasi di dunia maya itu. Mungkin kita juga mesti semakin hati-hati. Apalagi ketika menggunakan media dunia maya itu. Entah, Facebook (baca: FB), berbagai blogg (Multiply, Bloggspot, Word Press, My Space dll) maupun media millist terutama Karena musuh di luar sana semakin pintar. Kita juga harus semakin cerdik.

Ya, saya jadi ingat apa kata almarhum bapak saya ketika masih menginjak bangku SD. Suatu hari saat saya sedang menonton televisi di ruang tamu bersama-sama dengan beliau. Bapak saya itu bilang,” Ingat kamu, Yan, dalam hidup tidak semua orang menyukai diri kita. Mungkin suatu hari nanti kita akan mengalaminya. Entah, itu dikhianati rekan kerja, rekan bisinis maupun sahabat sendiri. Untuk itu jadilah orang yang pintar bergaul dalam memilih kawan. Biar dikata kuper yang penting asal kita selamat dan tidak merugikan orang lain itu lebih baik.” Begitu katanya kepada saya. Dan perkataan itu pun sekarang masih hinggap di benak saya hingga sekarang.

Pun pula pepatah bijak mengatakanjuga. Dalamnya laut bisa diukur. Namun dalamnya hati (manusia) siapa yang tahu. Rambut boleh sama hitam tetapi hati belum tentu sama. Begitu pun pendapat tentang kita saling berbagi, curhat (baca:curhatan hati) sesama user millist, dan saling berbagi informasi kepada khalayak pada umumnya pengguna millist. Kita juga harus mempunyai tata etika ber-informasi dan transaksi elektronik. Alih-alih jika kita tidak mempunyai atau tidak mentaati hal untuk menyampaikan informasi dan saling berbagi kita sepatutnya harus mawas diri dan berhati-hati ketika curhat, berkeluh kesah, menyampaikan informasi dan juga memberi saran atau balasan di setiap e-mail yang bertaburan di berbagai millist.

Saling menghargai dan menghormati itulah yang harus kita pegang selaku pengguna millist khususnya. Apalagi hal ini pernah saya alami kita saya bernaung dan berdiam di sebuah salah satu millits yang saya sendiri menjadi anggota aktif di millist itu. Dimana saya bias saling berbagi, curhat (baca:curhatan hati) sesama user millist, dan saling berbagi informasi kepada khalayak pada umumnya pengguna millist itu.

Hingga suatu hari ada salah satu dari anggota millits yang saya diami itu terjadi suatu konfilk yang membuat semua pengguna millist tersebut merasa tidak nyaman. Konflik itu terjadi ketika salah oknum anggota millist tersebut menyinggung dan menyindir salah satu anggota millist lainnya dalam satu media tersebut. Dan bukan itu saja ternyata itu sudah menyangkut mencemarkan nama baik seorang dan juga keyakinan sesorang untuk berekspresi. Saya yang memebaca dan melihatnya itu hanya mampu bersimpati dan menyayangkan hal itu terjadi. Karena, noda setitik susu rusak sebelang. Seperti itulah akhirnya terjadi. Saling jadi ajang perang argumentasi dan alasan. Mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Benar-benar sungguh disesalkan.

Memang hal ini tak seheboh kasus seorang Prita Mulyasari yang sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik disalah satu Rumah Sakit berskala Internasional. Hmm…benar-benar membuat saya harus berpikir ulang beribu kali jika saya sudah berselancar atau berinteraksi dunia maya khususnya di media maya bernama millist. Apalagi ketika saya sedang curhat, berkeluh kesah, menyampaikan informasi dan juga memberi saran atau balasan di setiap e-mail yang bertaburan di berbagai millist yang saya ikuti sekarang ini. Atau, mungkin yang harus saya lakukan hanya berdiam diri saja? Atau, saya harus membaca lebih dahulu sebelum membaca setiap e-mail yang masuk di inbox pribadi saya? Mencermati lebih dahulu lalu memberi pesan dan kesan yang baik agar tidak terjadi hal yang dinginkan? Entahlah, tetapi kita sebagai seorang yang makhluk sosial tentunya sudah mengetahui hal ini. Kita hidup di negeri tercinta ini bukan hanya kita sendiri yang berpijak dan hidup tetapi jutaan jiwa manusia di bumi Indionesia ini. Baik dari suku, agama sampai adat istidat. Tentunya saling menghargai dan menghormati itu perlu dilakukan. Apalagi bagi selaku pengguna millist khususnya. Tentu hal itu harus dipraktekan dan diperhatikan!

Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri saat ketika menggunakan media dunia maya itu. Entah, Facebook (baca: FB), berbagai blogg (Multiply, Bloggspot, Word Press, My Space dll) maupun media millist terutama. Apakah Anda sudah melakukan hal itu semua seperti apa yang saya ungkapkan di atas? I Know What You Did On Millist!

Tanah Betawi, Ulujami, Akhir Agutus, 2010


Teruntuk negeri Indonesia berbagai etnis di negeri ini. Mari bersatu padu! Merdeka!

Biodata Penulis
Fiyan Arjun. Mencintai buku dan dunia tulis-menulis sejak SMEA. Sekarang masih menyadang mahasiswa Bina Sarana Informatika (BSI) Jurusan Manajemen Informatika dan aktif di komunitas penulisan FLP Jakarta sampai sekarang disamping itu juga mengajar ekskul di sebuah Sekolah Dasar Islam. Alumni Profec Author Club (PAC) Angkatan 2. Tulisannya beberapa kali pernah dipublikasi di majalah Sabili, Al-Mujtama, Annida, Tarbawi, Majalah Anak Aku Anak Saleh, Kabarindonesia.com. Eramuslim.com, Kotasantri.com dan Seputar Indonesia serta tulisan berbentuk Citizen Jurnalism beberapa kali dipublish di Republika Minggu. Dan peraih juara harapan tiga dalam rangka Lomba Menulis Surat Cinta di media On-line Kabarindonesia.com tahun 2008 dan masuk menjadi finalis dalam rangka Lomba Menulis Inspiratif tentang Matamu Ceritamu di tabloid Wanita Indonesia sebagai juri utama Dewi ‘Dee’ Lestari tahun 2006. Lomba Penulisan Artikel Kartini Di Mata SuperMoms harapan Satu di www.Supermoms.com Tulisan non fiksinya terdapat dalam buku “Bela Diri for Muslimah: Siapa Bilang Perempuan Lemah” (FLP Publishing 2009), termaktub di dalam Antologi Puisi G30S, Gempa Padang 2009 (Kuflet Publishing 2010), buku Lovely Ramadhan (Indie Publishing 2010), buku "Islam Mengajarkan Tradisi Menulis"—yang akan segera terbit.
Email: fiyanarjun@gmail.com. FB: bujangkumbang@yahoo.co.id. Blogg: www.sebuahrislah.multiply.com.

Ingin kenal lebih lanjut klik link dibawah ini:

http://www.annida-online.com/berita-penulis/fiyan-arjun-segera-luncurkan-buku-tunggal-pertama-1284048503.htm

0 komentar:

Posting Komentar