Senin, 25 Maret 2013
Event Planning: Creating the Perfect Outing!
Finding the Right Place
The first, and perhaps the most important thing about event planning that you’ll want to think about is the setting where your event will take place. For example, should you hold the event inside or outside on the lawn? Will you need a large tent if you hold it outside or is there already a large shelter for you to have everyone gather? In addition, do you have a list of the places that are available for the date that you are planning the event? If you are in charge of the event then you must make sure that you reserve a spot, building, or other place well in advance because many halls and buildings designed to hold large gatherings actually fill up way before the date expected! It’s also possible that you won’t have to worry about the arena for your event because it will be chosen for you!
Setting the Date
Do you have total freedom in setting the date for the event? If you are in absolute charge of event planning for a large group of people or members of a group then chances are that you’ll also be able to decide the date unless it was chosen by a group vote. If you do get to decide the date, however, you’ll want to think about what season and month you’ll be holding the event. A couple important guidelines to remember is that you don’t want the event to clash with a major holiday and you don’t want the weather to interfere, assuming that you’re holding an outside event.
Backup Plans
Of course there are always going to be things and other situations that creep up which may force you to actually postpone the date for the event? Or perhaps the event was set for an outdoor setting but it’s raining and thunder-storming terribly outside on the day of the event! One basic rule of thumb for event planning that you’ll learn is that you always want to have a backup plan in case something goes wrong! All in all, though, finding the right spot for your event, choosing the date, and making sure you have backup plans are all very important aspects of event planning!
Jumat, 07 Oktober 2011
Berkaca Diri dan Perang di Dunia Virtual
Nasihat berharga dari Khalifah ke-4 Ali bin Abithalib r.a. itu dimaksudkan untuk mengajak manusia berkaca pada dirinya, suatu hal yang jarang dilakukan orang – agar kita selalu mengintrospeksi diri, tidak berkacamata kuda dan merasa benar sendiri, hebat atau arogan.
Dalam khazanah budaya kita, nasihat itu muncul dalam pepatah,” kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.”
Dalam tataran pribadi, hal itu sangat benar adanya. Tapi dalam komunikasi sebuah bisnis – baik yang dilakukan oleh orang pemasaran maupun Public Relations (PR) – maka melihat ‘orang lain’, dalam hal ini pesaing, kiranya menjadi sangat penting.
Bukan hanya melihat kelemahan mereka, melainkan – yang lebih utama – adalah mengintip bagaimana ‘kehebatan’ pesaing. Sehingga seperti dalam ‘perang’ – dan bukankah tujuan memenangi usaha adalah ‘untuk memenangkan perang melawan pesaing’? – organisasi haruslah mengetahui di mana titik lemah dan kekuatan diri kita dan lawan.
Selain itu, manajemen juga meninjau apa saja kesempatan yang tersedia dan apa ancaman yang ada di luar sana. Dalam bahasa usaha, hal itu sering dilakukan secara sistematis melalui analisa SWOT, Strength, Weakness, Opportunity danThreat.
Pada dasawarsa lalu, melihat pesaing dan menganalisa kekuatan diri itu dilakukan lewat cara-cara konvensional. Jika Anda punya toko di Pasar Senen, Jakarta, misalnya, maka sesekali Anda akan mengintip kualitas barang dan harga yang di ‘toko sebelah’.
Tapi sekarang, persaingan terjadi secara lebih terbuka, lebih transparan – dan sering bisa dilihat pada ‘real time’ – tak usah menunggu nanti. Seorang pembeli tiket pesawat misalnya, bisa secara mudah membandingkan harga berbagai maskapai penerbangan pada saat yang sama lewat situs Internet.
Bahkan dari telepon seluler di tangan pun konsumen seperti kita bisa melihat perbandingan fitur dan harga sebuah produk secara cepat.
Maka di dalam persiapan memenangkan ‘perang’ melawan pesaing itu, para ahli menyarankan agar setiap organisasi atau perusahaan terus memonitor apa yang dibicarakan khalayak di dunia maya – baik itu di situs Internet maupun di jejaring sosial.
Penting untuk menggarisbawahi peran media sosial itu. Sebab jejaring sosial sekarang telah menjadikan ‘publik’ kembali ke dalam fungsi ‘Public Relations’ yang sebenarnya.
Bila dulu publik – alias khalayak – kadang sulit direngkuh oleh organisasi, kini mereka menjadi begitu dekat; begitu mudah dijangkau. Dalam waktu singkat sebuah organisasi bisa mendekati khalayaknya lewat fasilitas jejaring sosial yang dibangunnya, bahkan dalam jumlah yang begitu banyak, meski mereka berada di lokasi yang jauh dan terpencil.
Seorang seperti Presiden Obama, misalnya, bisa saling berkomunikasi secara mudah dengan siapa pun lewat akun Facebook atau Twitter sang presiden. Coba saja lihat, akun Barrack Obama –yang disiapkannya untuk pemilu presiden 2012 -- di Facebook.
Hingga 5 Oktober kemarin akun itu telah memiliki lebih dari 23 juta penggemar (‘like’), jauh di atas akun resmi Gedung Putih (‘White House’) yang hanya mempunyai 1,173,254 penggemar.
Menyadari manfaat media sosial itu, setiap hari beberapa kali Obama memperbaharui statusnya di Facebook, antara lain dengan mengirimkan informasi mengenai apa yang telah atau hendak dilakukannya pada hari itu, atau menulis kutipan-kutipan (‘quotes’) yang sebagian besar diambil dari pidatonya di berbagai kesempatan.
Tak hanya itu. Untuk lebih dekat dengan audience-nya, melalui situs barackobama.com pada 5 Oktober lalu sang presiden membangun halaman khusus ‘Tweet for Jobs’, guna mengundang masyarakat umum untuk menekan Konggres agar meloloskan program penciptaan lapangan kerja “the American Jobs Act” yang diusulkannya.
Obama rupanya tahu benar bahwa di media itu orang tidak bisa hanya melakukan komunikasi satu arah dan tidak bisa lagi mengontrol apa yang ingin didengar dari khalayak; tak bisa mengontrol apa yang hendak dikatakan para pengguna, dan tidak ada hierarki sebagaimana media konvensional dulu.
Para praktisi komunikasi, PR dan marketing, tahu benar bahwa kini mereka tidak bisa lagi menjadi penjaga gawang (gatekeeper) arus informasi atau berita yang keluar-masuk antara para petinggi organisasi dan masyarakat luas.
Sekarang ini yang ada adalah soal komunikasi dua arah – atau bahkan banyak arah; yang ada adalah bagaimana Anda mempengaruhi – bukan mendikte – khalayak, soal kemurnian (seberapa otentiknya info Anda) dan kepercayaan yang Anda bangun di mata masyarakat luas.
Selain itu, yang tidak kalah penting juga adalah perkara bagaimana agar Anda ditemukan oleh publik atau pasar – sehingga di tengah belantara jejaring Internet itu seseorang di tengah hutan Amazon bisa mendapatkan produk yang hendak dibelinya dari produsen di seberang lautan Pasifik.
Karena khalayak – yang terhubung satu dengan lainnya melalui ‘interactivity ‘ -- bisa menciptakan informasi yang mereka inginkan (dan bukan yang Anda ciptakan saja) dan menyebarkannya, maka Anda tak punya daya kontrol terhadap mereka. Maksimal yang bisa Anda lakukan adalah memengaruhi mereka, misalnya dengan mengikuti percakapan (‘conversation’) yang terjadi.
Dari kegiatan itu, Anda kemudian berharap akan muncul penyebutan nama situs perusahaan atau produk Anda, sehingga ada jejak atau alamat URL – yang sering disebut juga sebagai breadcrumbs , agar orang tertarik berkunjung ke tempat (situs) Anda. Itu disebut “findability” – makin mudah laman Anda ditemukan, makin tinggi kemungkinan orang membeli atau tertarik pada organisasi Anda.
Berhubung setiap pengguna Internet bisa menciptakan informasi dan menggalang komunitas serta komitmen mereka, maka setiap organisasi yang ingin memenangkan ‘perang’ dalam persaingan mesti bertindak proaktif, membangun hubungan dan membinanya secara bijak, antara lain dengan cara ‘mendengar’, terlibat dalam perbincangan yang ada dan segera memberikan respon balik dalam waktu singkat. Dengan kata lain, Anda harus berpartisipasi – karena pada zaman ini ‘diam bukanlah emas’.
Selain itu, Anda mesti menunjukkan kerendahan hati dan sikap yang otentik, jujur dan apa adanya – sebab tindakan menutup-nutupi informasi akan dengan mudah dipatahkan oleh luasnya pertukaran informasi yang terjadi secara transparan, cepat dan gratis.
Bila itu dilakukan, keuntungan yang Anda peroleh justru kian tinggi. Bahkan berkat itu pula Anda dapat ‘mencium’ bau sebuah isu penting, sebelum ia membesar menjadi krisis yang mungkin sedang mengancam.
Walhasil, apa yang terjadi dalam perbincangan di dunia virtual itu bisa menjadi tempat kita berkaca diri, dan sekaligus mengintip apa yang dilakukan pesaing di luar sana.
10 Kalimat Inspiratif Sang Jenius
Jakarta - Sosok legendaris di ranah teknologi, Steve Jobs, telah meninggal dunia di usianya yang ke-56. Akan tetapi, jejak kesuksesannya tidak akan pernah dilupakan.
Kesuksesan yang ia raih bersama Apple ini tidak luput dari cara Jobs memandang kehidupan serta bisnis yang ia jalani. Ia pun sering berbagi kalimat penuh inspirasi. Berikut beberapa di antaranya:
"Sangat sulit membuat desain sebuah produk. Kerap kali orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka inginkan, sampai kita menunjukkannya pada mereka". (BussinessWeek, 1998).
"Ini adalah salah satu mantra saya - fokus dan kesederhanaan. Kamu harus berkerja lebih keras untuk menjernihkan pikiran dan menghasilkan kesederhanaan. Pada akhirnya hal ini akan setimpal. Saat kamu tiba di sana, kamu bisa memindahkan gunung". (BusinessWeek, 1998).
"Menjadi orang terkaya di pemakaman tidak berarti bagi saya...Pergi ke tempat tidur dan mengatakan bahwa kami telah melakukan sesuatu yang luar biasa...Itulah yang berarti bagi saya". (The Wall Street Journal, 1993).
"Saya akan selalu terhubung dengan Apple. Mungkin ada saat-saat atau tahun-tahun di mana saya tidak di sini, namun saya akan selalu kembali". (Playboy, 1985).
"Kami tidak pernah khawatir terhadap angka-angka. Apple selalu mencoba berfokus pada produk karena sebuah produk benar-benar akan membuat perbedaan". (Playboy, 1985).
"Kamu harus memiliki keyakinan terhadap sesuatu - keinginan, takdir, hidup, karma, apapun itu". (Stanford commencement speech, 2005).
"Pekerjaanmu akan menjadi bagian penting dari kehidupanmu. Satu-satunya cara untuk mencapai kepuasan adalah dengan percaya bahwa apa yang kamu kerjakan adalah pekerjaan yang hebat. Cintai apa yang kamu kerjakan. Jika kamu belum menemukannya, tetaplah cari. Jangan berhenti". (Stanford commencement speech, 2005).
"Tidak ada seorang pun yang ingin mati. Meski mereka yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati. Namun kematian adalah tujuan kita bersama, tidak ada yang bisa lolos darinya. Kematian adalah penemuan terbaik dalam kehidupan. Ia membersihkan yang lama dan membuat jalan untuk yang baru. Sekarang yang baru adalah kamu, namun suatu saat nanti kamu akan menjadi tua dan 'dibersihkan'. Maaf terlalu dramatik, namun ini benar". (Stanford commencement speech, 2005).
"Panutan saya untuk bisnis adalah The Beatles. Mereka saling mengimbangi satu sama lain. Beginilah cara saya memandang suatu bisnis, bisnis yang hebat bukan dilakukan oleh satu orang, melainkan oleh tim". (Interview with 60 Minutes, 2003).
"Jika kamu melakukan sesuatu yang bagus, maka selanjutnya kamu harus melakukan hal lain yang luar biasa. Jangan tinggal terlalu lama, pikirkan apa yang harus kamu buat selanjutnya". (NBC Nightly News, May 2006).
Sabtu, 11 September 2010
Enyahkan Minta-Minta, Agar Tak Terhina
Fenomena mental peminta-minta, juga berkembang ke berbagai aspek. Di zaman sekarang, kadar dan jenisnya sudah mulai ada modifikasi dan perubahan.
Tidak terlalu sulit bagi kita untuk menjelaskan kondisi yang terjadi di lapangan. Banyak pemandangan, bagaimana masyarakat berduyun-duyun dan dan saling berebut untuk memperoleh bagian masing-masing, walaupun harus saling adu sikut. Bahkan, terkadang nyawa pun dijadikan taruhannya hanya untuk sebuah kupon.
Peristiwa yang menewaskan beberapa warga yang berdesak-desakan untuk mendapatkan uang sedekah salah satu dermawan di Jawa Timur, pada bulan puasa beberapa tahun lalu, adalah bukti nyata akan hal ini. Untuk memperoleh uang kurang lebih Rp. 30.000, mereka rela berdesak-desakkan, yang pada akhirnya nyawa pun hilang tak terelakkan.
Di akui atau tidak, budaya meminta-minta memang tengah menjangkiti sebagian dari kita. Predikat sebagai warga miskin sepertinya suatu kebanggaan yang diperebutkan, karena akan mendapat bantuan. Tidak sedikit orang akan mencak-mencak ketika dirinya tidak terdaftar sebagai gakin sebagai syarat untuk mendapatkan BLT, atau lain sebagainya.
Maka tidak mengherankan, ketika kita bepergian, terdapat di sana-sini pengamen, pengemis berseliweran. Belum selesai yang satu, sudah antri yang lain. Bahkan, di salah satu daerah di bumi pertiwi ini, terdapat satu desa yang menjadikan mengemis ataupun mengamen sebagai profesi hidup. Padahal, kalau kita perhatikan fisik dan anggota tubuh mereka, terlihat masih kekar dan sehat, yang bisa dimanfaatkan untuk mengais rezeki dengan cara yang jauh lebih mulia, daripada meminta-minta. Dan yang membuat hati lebih sesak lagi, tidak semua mereka dalam keadaan futur sehingga mereka harus meminta-minta. Hal ini belum termasuk tingkah laku para pejabat yang tak jarang juga ’berteriak-teriak’ untuk menuntut kenaikkan gaji, perlengkapan fasilitas, dan seterusnya.
Potret buram kondisi sosial ini, tentu sangat memprihatinkan. Sebab, bagaimana mungkin, Indonesia yang termasyur dengan negeri yang syarat akan kesuburan tanahnya, penduduknya yang mayoritas muslim, justru ’bangga’ dengan menggantungkan hidup pada orang lain. Dan tentu saja, gaya hidup macam ini sangat bertentangan dengan ajaran yang telah disampaikan oleh Rasulullah. Islam mengajarkan konsep memberi, bukan meminta. ”Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah,” demikianlah sabda Rasulullah, yang artinya kita diperintahkan untuk membumikan konsep memberi, bukan meminta-minta.
Ancaman Allah
Dalam hal penciptaan makhluk, Allah telah menjadikan mereka dengan berpasang-pasangan. Ada malam dan siang, pria dan wanita, jantan dan betina, dan begitu seterusnya, termasuk adanya si kaya dan si miskin. Terhadap mereka yang benar-benar terpuruk masalah ekonomi yang memaksa mereka harus meminta-minta, maka Islam memberi lampu hijau bagi mereka, dengan catatan tidak menjadikannya sebagai profesi hidup.
Diriwayatkan dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq al-Hilali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.”
Jelas sudah bahwa pada dasarnya hukum meminta-minta tanpa landasan udzur yang telah dijelaskan di atas, merupakan perbuatan yang dilarang. Meskipun demikian, jangan sampai, karena alasan kita masuk dalam salah satu dari ketiga kategori tersebut, dengan seenaknya kita jadikan sebagai hujjah untuk melegalkan meminta-minta sebagai profesi hidup. Ingat, bagaimanapun alasannya, hakekat meminta-minta adalah perilaku yang akan mencederai kehormatan diri. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu.” (HR. Tirmidzi)
Selanjutnya, terhadap mereka yang menjadikan meminta-minta sebagai wasilah untuk memperkaya diri, bukan karena kebutuhan yang mendesak, maka Allah telah mengingatkan dengan peringatan yang tegas, melalui perantara lisan Rasulnya, “Siapa saja di antara kalian senantiasa meminta-minta, nanti ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (H.R. Bukhari, Muslim)
Dalam sabdanya yang lain yang diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api; sehingga terserah padanya apakah cukup dengan sedikit saja atau akan memperbanyaknya.” (HR. Muslim).
Berusaha dan Berkarakter Kaya
Dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh Abdullah bin Zubair dijelaskan bahwa mencari kayu di hutan, kemudian menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, itu merupakan perkara yang jauh lebih mulia daripada harus meminta-minta. Hadits tersebut mengajarkan agar kita tidak mudah untuk menggantungkan hidup kepada orang lain. Tapi sejatinya, pola macam ini belumlah cukup untuk mencegah diri dari meminta-minta, dan itu bisa kita saksikan di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, sebagaimana yang telah penulis jelaskan di atas.
Memiliki karakter orang kaya, juga merupakan suatu yang sangat penting dalam menanggulangi kasus ini. Orang kaya dalam kontek ini, bukanlah mereka yang memiliki segudang emas dua puluh empat karat. Sekalipun mereka memiliki itu semua, tetapi ketika kekikiran menyelimuti diri, dahaga akan harta semakin membahana, maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang miskin. Hakikat orang kaya adalah orang yang mampu memberi, bukan mereka yang gemar menumpuk dan menumpuk harta, ”Tidak disebut kaya karena banyak hartanya, tetapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karakter macam inilah yang dibangun oleh Rasulullah kepada para sahabatnya, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk menengadahkan tangan, meminta-meminta bantuan orang lain, sekalipun mereka dalam kesusahan. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu contohnya. Memang, beliau adalah termasuk salah satu sahabat yang kaya raya. Namun perlu diperhatikan, ketika beliau berhijrah ke Madinah, kekayaan yang dimilikinya ditinggal di Mekkah. Setibanya beliau di Madinah, kemudian Rasulullah mempersaudarakannya dengan salah satu sahabat Anshor, Sa’ad bin Ar-Rabi’. Ketika itulah terlihat betapa Abdurrahman termasuk tipe orang yang tidak ingin merepotkan orang lain dengan cara menerima segala apa yang ditawarkan kepadanya.
Saat itu, sahabat Anshor tersebut memberinya tawaran agar ia (Abdurrahman) sudi menerima sebagian harta yang ia miliki, termasuk salah satu istrinya, apabila Abdurrahman berkenan. Namun apa yang dilakukan oleh sahabat mulia ini, beliau menolak dengan halus, dan meminta agar ditunjukkan pasar. Dengan kemahirannya dalam berniaga, akhirnya beliau mampu memperoleh apa yang pernah ia rasakan sebelum berhijrah, yaitu harta yang berlimpah ruah. Perilaku yang tidak jauh berbeda, juga ditunjukkan oleh para sahabat muhajirin lainnya, ketika memperoleh tawaran bantuan dari saudara-saudara mereka, sahabat-sahabat Anshar.
Karenanya, menanamkan konsep bahwa ”tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah”, setelah memiliki jiwa wirausaha, merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam meninggalkan kebiasaan meminta-minta. Wallahu ’Alam Bis-Shawab
Ciptakan Rasa Takut yang Tumbuhkan Keberanian
Apa yang terjadi beberapa abad silam, juga melanda manusia masa kini, yang hidup di zaman modern, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Sayangnya, tak jarang orang memanfaatkan kemajuan ini, justru untuk menghilangkan ataupun mengelabuhi ketakutannya; baik itu ketakutan akan kehilangan jabatan, harta, martabat, dan lain sebagainya.
Sebagai contoh, kejahatan kerah putih dan tindak pidana korupsi, akan melakukan segala hal untuk menjaga nama baiknya. Dengan hasil korupsi, bisa saja dia “memesan” hukum pada sang hakim, bak memesan makanan/minuman di restoran. Tinggal menelpon, kemudian memilih keputusan macam apa yang dikehendaki. Bahkan, bisa saja media massa “dibeli” untuk mengelabuhi masyarakat akan kebobrokkan yang telah dilakukannya.
Terhadap pidana kasus pornografi/pornoaksi, misalnya, sebagaimana yang sedang berkembang saat ini, “si pelaku” akan mencoba sekuat tenaga untuk menepis segala tuntutan yang datang. Mediapun didatangkan, untuk mengklarifikasi bahwa ia sedang difitnah, sebagai korban. Padahal, bukti-bukti telah ‘berbicara’, bahwa ia adalah pelakunya. Rasa takut akan hilangnya kehormatan, popularitas atau nama baik, memungkin seseorang melakukan segala cara.
Tentu saja ketakutan macam ini, merupakan ketakutan yang dilarang, sebagaimana sabda Rosulullah, “Rasa takut terhadap seseorang jangan sampai menghalangimu untuk mengatakan apa sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikan atau mendengarnya.” (H.R. Ahmad)
Pada intinya, seringkali ketakutan seseorang terhadap sesuatu, menyebabkan dia menjadi pengecut, pecundang, pembohong, kerdil dan lain-lain. Takut semacam ini, merupakan jenis takut yang negatif, yang akan membawa pelakunya kepada keresahan hidup. Padahal, tidak seharusnya sifat takut tersebut, menjadi penyebab keterpurukannya, bahkan, sejatinya, justru dari rasa takut itulah, timbul keberanian, yang menyebabkan orang lain segan terhadap nya, sekalipun dia tidak menakut-nakuti mereka. Dan hal itu akan terwujud, manakala orang tersebut mampu memposisikan sifat takutnya sesuai dengan apa yang telah menjadi ketetapan Allah.
Dan menetapkan takut semata-mata kepada-Nya (Allah) adalah kunci dari itu semua. Sebagaimana yang disabdakan Rosulullah, “Barang siapa yang takut kepada Allah, maka ia pun akan ditakuti oleh segala sesuatu. Dan barang siapa yang takut kepada selain Allah, maka ia pun akan takut kepada segala sesuatu.”
Abu Al-Qasim Al-Hakim berujar, “Barang siapa yang takut kepada sesuatu maka ia akan lari dari padanya. Dan barang siapa yang takut kepada Allah, maka ia akan mendekati-Nya.”
Takut yang melindungi keburukan
Setali tiga uang, bisa kita simpulkan, bahwa kasus-kasus yang telah dipaparkan di atas, tidak lain itu karena dilandasi ketakutan sesama makhluk. Karenanya, kemaksiatan, perilaku dosa semarak terjadi, untuk menutupinya. Sedangkan ketakutan kepada Allah, justru akan menghantarkan manusia kepada kebaikkan amal. Al-Fadhil Ibnu ‘Iyadh berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah, maka ketakutan itu akan menghantarkannya kepada kebaikkan.”.
Contoh kongkrit akan hal tersebut, bahwa takut kepada Allah, mampu menumbuhkan keberanian kepada makhluk, dan mengarahkan kepada kebaikan, bisa kita lihat pada sosok Nabi Yusuf ‘Alaihi wassalam, ketika beliau menolak rayuan Zulaikha untuk berbuat zina. Ketakutan kepada Allah, telah melindunginya dari keburukan.
Begitu pula dengan Rosulullah. Ketakutan seorang hamba kepada Tuhannya yang tertancap begitu dalam, telah menumbuhkan keberanian beliau untuk menantang larangan para pemuka Quraisy untuk menyebarkan agama hanif ini, sekalipun mereka mengancam dengan berbagai ancaman, “Wahai paman, sekalipun mereka mampu meletakkan matahari di tanganku, sekali-kali tidak akan pernah kutinggalkan dakwah ini”, jawab beliau dengan tegas.
Timbulnya rasa takut macam ini, tidak serta merta bisa kita munculkan seketika. Butuh proses menuju kesana. Layaknya seseorang yang takut terhadap sesuatu, tidak lain dikarenakan dia telah mengetahui bahwa sesuatu tersebut memang patut ditakuti, baik itu karena dia memiliki kekuatan, ataupun kekuasaan. Semakin jauh dia mengetahui hal tersebut, dan semakin menyadari kelemahannya, maka semakin menjadi-jadilah rasa takut itu bersemayam dalam dirinya.
Begitu pula prihalnya dalam menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Semakin kita mengenal akan kekuasaan dan keperkasaan-Nya, dan mengenal ketidak berdayaan diri tanpa karunia-Nya, maka ketakutan kita akan semakin berlipat ganda.
Sebaliknya, ketidaktahuan kita kepada Allah, akan menjadikan kita ingkar kepada-Nya, yang kemudian akan melahirkan penentangan terhadap-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 28).
Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad, Rosulullah bersabda, “Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan aku juga orang yang paling takut kepada-Nya.”
Sejalan dengan surat dan hadits di atas, ada seseorang yang berkata kepada imam As-Sya’bi, “Wahai alim, sesungguhnya seorang alim itu adalah orang yang takut kepada Allah”. Ada pula pepatah yang mengatakan, “Bukanlah seorang penakut itu adalah orang yang menangis kemudian mengusap kedua matanya. Yang dimaksud dengan penakut adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang ia khuatir akan menerima ‘ikob (hukuman) dari Allah lantaran sesuatu tersebut”.
Dari sini, kita bisa mengambil benang merah, bahwa ketakutan kepada Allah akan kita peroleh dengan mengenal-Nya lebih dalam. Dan yang perlu dicamkan, bahwa takut kepada Allah merupakan salah satu bukti keimanan kita kepada-Nya, yang menuntut kita menjalankan semua perintahnya, dan menjauhi larangan-larangan-nya. Dan sungguh termasuk orang yang menentang Allahlah, mereka yang mengaku-ngaku takut kepada Allah, namun, mereka menyoalkan, meragukan keabsahan perintah-perintah ataupun larangan-larangan-Nya yang telah termaktub dalam Al-Quran ataupun As-Sunnah.
Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka (57) Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka (58) Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),(59) Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (60) mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya (61).” (Al-Mukminun: 57-61)
Akhirnya, mari kita berdo’a, semoga Allah menetapkan kita termasuk orang-orang yang hanya memiliki rasa takut terhadap-Nya, sebagaimana rasa takut yang telah dimiliki oleh para nabi dan rosul serta sahabat-sahabat mereka, sehingga kita termasuk dari golongan mereka. Amien, amien yaa rabbal ‘aalamien. Wallahu ‘alam bis-shawab.
Bekerjalah, Engkau Akan Lebih Mulia!
Zaman sedang susah. Harga terus naik, sementara gaji tak mesti mengintip. Meski perasaan kita luka, kita tetap harus bekerja!
ZAMAN memang sedang susah. Harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi setiap hari. Sementara gaji tidak tentu bertambah setiap bulan. Jutaan sarjana bertambah setiap tahunnya. Namun sebagian besar perusahaan ‘kurang ramah’ dengan para sarjana baru lulus. “Dibutuhkan karyawan yang berpengalaman, minimal pernah bekerja dua tahun,” begitu semboyannya.
Banyak warga terdhalimi oleh situasi. Rumah-rumah mereka tergusur atau digusur. Akibat kelalaian, puluhan ribu orang korban Lapindo Brantas kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Di saat yang sama, ada orang bermewah-mewah untuk hal-hal yang sedikit kemanfaatanya. Ada pengusaha yang rela mengeluarkan biaya 10 Milyar untuk biaya pernikahan anaknya. Seorang bakal calon Bupati atau Walikota menghabiskan dana serupa untuk biaya kampanye.
Bahkan ada yang lebih menyedihkan dari semua itu. Menjelang perayaan Tahun Baru 2010, sebuah pengelola hiburan di Jakarta rela menghabiskan uang Rp 2 Miliar hanya untuk biaya kembang api.
Fenomena ini bisa melukai perasaan Anda, khususnya yang sedang menderita, yang tak memiliki pendapatan apa-apa dan yang selalu ditolak saat melamar kerja.
Ini memang zaman susah. Meski demikian, semua kesusahan hendaknya tetap menjadikan kita terus bersemangat untuk berusaha dan tidak gampang menyerah.
Kegigihan untuk mencari nafkah hendaknya tetap terjaga, jangan sampai kendor. Ketidakadilan sosial atau politik, janganlah menyebakan kita menjadi “buta” dan gelap mata.
Mengapa demikian pentingnya bekerja? Karena dalam agama kita, bekerja bukan semata untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan, lebih dari itu, ia akan mengangkat derajat kita di mata manusia maupun di sisi-Nya. Dalam agama Islam, orang yang bekerja adalah orang yang memiliki harga diri dan kemuliaan.
Dalam salah satu haditsnya, baginda Rasulullah Saw menjelaskan, “Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (HR.Mutafaq’alaih)
Orang yang dengan gigih bekerja keras, membanting tulang, mencari rezki dari memeras keringat dan makan dari hasil itu, maka itu lebih baik dari makan hasil yang diperoleh dari harta warisan, atau memperoleh berdasarkan pemberian orang karena si pemberi merasa terdorong untuk memberi, terlebih jika shadaqah itu memang diminta-minta.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah SWT.” (HR. Ahmad)
Semua bentuk usaha yang dilakukan dengan membanting tulang dan pantang menyerah akan memompa semangat berkontraksi otot tubuh yang menyebabkan kesehatannya tetap terjaga dan semakin menambah kekuatannya. Secara fisik orang yang berlaku seperti ini akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sedang dalam jiwanya akan tumbuh rasa percaya diri dan sifat mandiri. Ia tidak tergantung dengan orang lain.
Sebaliknya orang yang hidup berdasar dari belas kasih orang lain, selain bermental pasif, mereka juga memiliki jiwa lemah bahkan mematikan jiwa. Dengan sangat tegas Nabi mengingatkan kepada kita bahwa, “Pengangguran (dapat) menyebabkan hari keras (keji dan membeku).”(HR. Asysyihaab).
Pengangguran aktif--yang didorong oleh kemalasan, dan pengangguran pasif --karena bersandar dari tunjangan-tunjangan, warisan,sama-sama berpotensi membuat hati menjadi keras dan membeku.
Islam memerintahkan kepada kita, selama hayat masih dikandung badan, bergerak dan berkarya adalah sangat dianjurkan. Rasulullah mengingatkan ummatnya agar manusia senatiasa berusaha dan berhati-hati terhadap waktu luang, karena pada momentum tersebut merupakan ladang subur bagi syetan untuk menanamkan kemunkaran. Ditinjau dari konteks ini maka bekerja dan berakritivitas adalah jalan lain untuk membentung kejahatan.
Bahkan apapun atau bagaimanapun bentuk pekerjaan itu, bila berangkat dari mencari keridhaan-Nya adalah bernilai ibadah, yang berarti mendapatkan ganjaran di sana.
Itulah sebabnya (hikmahnya)mengapa di pagi buta seusai shalat subuh (fajar) kita dilarang tidur lagi sebagaimana disabdakan oleh beliau Saw, ”Seusai shalat fajar(subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezki.” (HR.Ath-Thabrani).
Seiring dengan perputaran matahari, kita juga diperintahkan untuk menjalankan amanah-amanah kehidupan dengan bekerja dan bekerja.
Dalam al-Qur’anul Karim kata ‘aamanu’ (beriman) senantiasa diikuti dengan ‘wa aamilushsholihat’ (melakukan amal sholeh/kerja), seperti yang termaktub dalam surat al-Ashr: 3; illalladzinaamanuu wa ‘amimush-sholihati wa tawa shoubil haqqi fatawa shoubishshobri. (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran).
Orang yang senantiasa bergerak/kerja menandakan keimanan yang bersangkutan dalam kondisi aktif dan dinamis. Sebaliknya, mereka yang ‘menikmati’ bermalas-malasan alias gemar berpangku tangan, menandakan dirinya sedang dilanda impotensi iman. Naudhubillahi mindhalik.
Asahlah iman, agar iman kita lebih dinamis dan produktif. Sempurnakan kecintaan kita kepada Allah dengan semangat yang kuat untuk menjemput fadhilahnya/rezkinya yang dihamparkannya begitu luas di penjuru bumi. Singsingkan lengan baju, setelah kita bertakarrub kepadaNya. Begini inilah yang dikatakan iman yang potensial. Iman yang aktif lagi produktif.
Menurut Ibnu Atsir, bekerja termasuk bagian dari sunnah-sunnah nabi. Nabi Zakaria as. adalah tukang kayu. Nabi Daud as. membuat baju besi dan menjualnya sendiri. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah, Nabi Daud itu tidak akan makan, kecuali makan dari hasil tangannya sendiri.
Siapa yang tidak mengenal Nabiullah Daud? Selain seorang Nabi, beliau telah diberi oleh Allah SWT kekuasaan dan harta yang melimpah. Walau begitu, beliau tidak merasa gengsi untuk bekerja dengan tangannya sendiri guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Beliau tidak mengajarkan berpangku tangan dan mengharap belas kasih dari orang lain, pada ummat yang dipimpinnya.
Akhirul Kalam
Kamis, 09 September 2010
Wasiat Dahsyat Penolak Kefakiran

Islam itu sangat solutif, berbahagialah bila engkau seorang muslim, apalagi seorang muslim itu adalah enterpreuner (red. Pengusaha), kalaulah dia yakin akan jalannya, untuk berjihad di dunia melalui bisnis, tentulah dia memiliki dua ujung mata pedang dalam langkah perjuangannya, yaitu pertama : Ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menjemput rezeki, dan kedua : Kekuatan amalan ibadah dan doa.
Kedua mata pedang tersebut saling menguatkan, kedua mata pedang tersebut menambah kekuatan keyakinan hamba atas kekuasaan Yang Maha Kuasa. Logika bisnis dan usaha kadang-kala menjadi terbalik, bahkan hasil yang di raih pun seringkali ilmu matematika ataupun indikator ekonomi tak mampu menjangkau.
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 35:2)
“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang di kehendaki Nya di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi Rezeki yang sebaik baiknya” (QS 34:39)
Pada saat krisis tiba, niscaya mereka para pribadi muslim haruslah merasa yakin dan tetap tenang. Mereka tidak gundah atas berita yang beredar di media masa, mereka tidak turut serta menggaungkan senandung yang sama dengan kaum yang lain , mereka punya sikap yang unik dan berbeda dengan kaum yang lain, alasannya karena mereka punya keyakinan yaitu mereka memiliki ALLAH, PEMILIK SEGALA KEPUTUSAN, PEMBERI REZEKI.
Seringkali ummat islam terlupakan adanya kekuatan ujung mata pedang yang kedua ini yaitu kekuatan amalan ibadah dan doa , sebahagian ummat islam sekarang cenderung mengikuti pola manajemen barat yang serba ‘sebab akibat’ secara rasional, yang tentunya paham barat tersebut telah nyata melupakan faktor Tuhan sebagai Penentu. Walaupun sebagian mereka berhasil dalam usahanya, maka hasil kerja yang di dapat paling tidak hanya memperbanyak digit nilai materi saja, dan hampa dalam nilai keimanan serta berpeluang hilang keberkahannya, ketahuilah bila niat dan hasilnya dasarnya sudah menyimpang , hasil itu semua kelak akan nihil di hadapan Allah.
Rugi sekali bagi seorang muslim, apalagi kalangan pengusaha muslim khususnya, bila meninggalkan kekuatan yang satu ini, mereka punya Allah, mereka punya peluang doanya terkabul, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik di banding orang kafir, kenapa kita harus tunduk kepada yang lainnya, bahkan melemahkan diri?
Banyak sekali hadist Nabi maupun kisah sahabatnya yang memberikan gambaran bagaimana seorang muslim berdoa, kesemuanya merupakan karuniaNYA agar ummat islam khususnya para pengusahanya agar memiliki pegangan dan panduan dalam melangkah di kehidupan dunia ini, menjadi pengelana yang tak akan tersesat di antara ujian kehidupan berupa kelapangan maupun kesempitan.
…………
Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.
Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”
Abdullah : “Dosa dosaku”
Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”
Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”
Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”
Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”
Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”
Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”
Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”
Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”
Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.
mmnasution@eramuslim.com
Kamis, 25 Februari 2010
Strategi Menghadapi ACFTA
Benar. Sebenarnya, dari dulu produk Cina yang terkenal murah sudah membuat pebisnis lokal ketar-ketir. Namun karena ACFTA, Januari ini, 83% dari 8.738 produk impor Cina bebas masuk ke pasar Indonesia tanpa dikenai bea masuk. Wajarlah terjadi kecemasan lantaran dulu pun telah membawa dampak, apalagi sekarang yang tanpa bea masuk.
Pertanyaannya: mengapa produk Cina berharga murah dan semakin bagus kualitasnya?
Kenali lawanmu dan kenali dirimu. Untuk mengenal lawan, amati sisi technical dan sisi human social-nya. Kita lihat sisi teknis. Pertama, Cina unggul di 12 faktor kompetisi bisnis (GCI Cina di 29, Indonesia di 54). Kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa, Cina menang telak di faktor sistem birokrasi yang cepat-tepat, infrastruktur, stabilitas ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja dan ukuran pasar (sehingga mampu mencapai economies of scale).
Kedua, Cina menerapkan strategi Reverse Engineering atau imitasi, sehingga mengurangi biaya riset & pengembangan, serta dapat memproduksi barang yang bervariasi dalam waktu singkat. Ketiga, adanya tax free policy selama tiga tahun pertama untuk perusahaan joint venture, subsidi 13,5% dari pemerintahan lokal dalam bentuk tax refund, pinjaman bank yang hanya 3% per tahun, serta banyaknya industri pendukung sehingga industri Cina tidak perlu mengimpor barang. Mata uang yuan yang dipatok terhadap US$ membuat harga ekspor barang Cina menjadi sangat murah.
Keempat, sistem politik di Cina lebih terbuka dan tidak memberangus kritik lagi sehingga mendorong perbaikan bersinambung. Contohnya, ada pertemuan tahunan yang disebut Chinese Economists Society.
Sekarang kita lihat sisi human-social. Pertama, adanya jejaring keluarga. Pebisnis Cina bisa menekan biaya pemasaran karena menggunakan jejaring ini untuk promosi. Kedua, ada trust antarpedagang, terutama kredit yang dilandasi guanxi (hubungan). Guanxi ini tidak hanya pada keluarga, tetapi juga kesamaan asal daerah, sekolah dan persahabatan.
Ketiga, investasi luar biasa di sektor pendidikan. Pada 1998, 3,4 juta pelajar masuk ke universitas. Empat tahun kemudian, pendaftaran universitas naik 165% dan siswa Cina yang ke luar negeri naik 152%. Setelah lulus mereka kembali dan membangun negerinya. Walau awalnya hanya menjadi pabrik alih daya, karena SDM-nya sudah menguasi teknologi, tak mengherankan perusahaan Cina seperti Lenovo bisa membeli IBM Thinkpad, Huawei mengancam Cisco dan Ericsson, serta Haier mengejar GE, Whirlpool dan Maytag.
Keempat, walau upah tenaga kerja hampir sama, buruh Cina bekerja lebih efisien (Cina di peringkat 32, Indonesia di 75 dari 133 negara). Produktivitas pekerja Cina naik 6% per tahun (1978-2003). Di Cina, satu produk butuh seorang pekerja. Di Indonesia, butuh tiga pekerja. Tukang batu di Cina benar-benar tukang batu tulen sementara di Indonesia adalah petani yang menganggur.
Lantas, bagaimana mengatasinya?
Langkah awalnya adalah analisis kompetensi inti Anda. Kenali dirimu berarti harus mengetahui betul apa kompetensi inti kita yang tidak dimiliki Cina. Hati-hati: kompetensi inti tidaklah sama dengan sumber daya yang kita miliki, seperti pertambangan, perkebunan/pertanian, properti dan infrastruktur. Sektor perkebunan, misalnya, memang Indonesia memiliki luas lahan yang besar, tetapi output-nya perlu digenjot agar lebih valuable, rare, costly to imitate dan non-substitutable. Karenanya, diperlukan audit manajemen strategis oleh pihak ketiga agar Anda tahu persis kekuatan dan kelemahan yang eksis di perusahaan.
Lalu, hadapi strategi harga murah Cina dengan empat cara. Pertama, menjalankan strategi harga lebih murah dari Cina, yakni menggunakan cara cloner, imitator, adapter (yang meniadakan biaya R&D), dan relokasi pabrik. Cara kedua, meningkatkan diferensiasi seperti layanan pascajual yang lebih baik, misalnya garansi uang kembali, produk yang berdasarkan kebudayaan asli Indonesia, hassle free experience, atau spesialisasi yang memanjakan konsumen terutama di sektor jasa.
Cara ketiga, melakukan inovasi produk yang lebih murah tetapi cukup berkualitas dengan Blue Ocean Strategy. Cara keempat, menerapkan strategi positioning “ada harga ada rupa”. Produk makanan Cina dikenal berbahaya: mainan anak beracun, komestiknya mengandung merkuri, susu mengandung melamin, perhiasan imitasi Cina mengandung logam berat kadmium. Banyak yang bilang kain batik asal Cina memang murah tetapi motifnya tidak bagus, kasar, dan kainnya kalau dipakai terasa panas di badan, sedangkan kain batik di Solo motifnya cukup bagus, begitu juga kualitasnya.
Tentunya, mengenal karakteristik pembeli sangat membantu dalam penentuan strategi. Pembeli dapat dibagi menjadi tiga golongan: premium, value for money dan ekonomi. Nah, produk Cina sebenarnya lebih diterima pembeli ekonomi dan value for money.
Terakhir, perkuat gotong-royong dan tolong-menolong. Dayagunakan jalinan kekeluargaan, kedaerahan dan alumni untuk membangun social capital seperti di Cina. Selain itu, tentunya pemerintah juga harus berperan lebih aktif membantu industri dalam negeri melalui strategi nontarif seperti pengetatan seluruh Standar Nasional Indonesia, pemberian label halal, serta pendayagunaan Komite Anti-Dumping dan Komite Pengamanan Perdagangan. Juga, membatasi ekspor energi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, membuat kebijakan fasilitas pajak, mereformasi birokrasi dan memperbaiki infrastruktur.
Selamat berjuang pebisnis Indonesia, kita pasti menang!
Sabtu, 31 Oktober 2009
Junior Women Graduates 22 Aircraft That Has

Wrinkles on the face of this woman described how hard life path taken. Susi Pujiastuti (45) crawling as fresh fish traders. She was successful in the modern fishing industry and charter flights beraset hundreds of billions of rupiah.
No doubt, PT Excelcomindo Pratama (Tbk), telecommunications companies, granted predicate The Best Indonesia Berprestasi 2009. Currently, women who only graduated from junior high school was running two companies.
Each is a Marine PT ASI Pujiastuti Product engaged in fishing business, and Susi Air, which is a lease with 22 airlines plane propeller. Of the two companies, Susi could support thousands of employees.
This woman's way of life is full of twists. After deciding out of high school in Cilacap, Central Java, in 1983, Susi started her job as a gatherer of fish with a mediocre capital.
His business was growing. A year later, he managed to dominate the market Cilacap. Not content to do business only fish in one area, Susi began glancing at the south coast of Pangandaran in West Java.
Apparently, there luck Susi came. Fishery business thrive. If he had been trading just fish and shrimp, then Susi began to market-oriented commodity exports, the lobster.
She brought his own wares to Jakarta to offer to a variety of seafood restaurants and exported. Since foreign demand is very large, to provide a lobster stock, Susi be around Indonesia looking for the source of supply of lobster.
Any problems arise. Problem precisely because so many stocks, but transportation, particularly air, is very limited. To send by ship for too long because it could be threatened rotten lobster or decrease its quality.
That's when the idea arose another Susi to buy a plane. Christian von Strombeck, her husband who happened to foreign nationals who is a pilot charter plane from Germany supports it.
A Cessna type aircraft he purchased. Transportation was very help improve the productivity of fish trade. The value of commodities sold in local fishermen also rose.
"Fishermen can get added value. For example, lobsters in the Mentawai Islands which had been sold only Rp 40,000 per kilo, after which it could be raised to Rp 80,000 per kilogram at the time, "said Susi to Persda Network.
Thus, the need for even more passenger plane increases with increasing exports. Later, the plane that was only for sea transport of merchandise, he tried to rent to people who want to ride.
"Apparently, a huge transportation demand so we are developing this charter flight business and Susi Air," he said.
Currently, Susi Air has 22 small planes, among other types of Cessna Grand, Avanti, and Porter 80 operated by the pilot. A total of 26 pilots of whom are foreign pilots.
Price Cessna current USD 20 billion per unit. The price of the aircraft could Avanti four times more expensive.
Susi Air airline currently operates in almost all parts of the region in Indonesia. To develop this business, Susi determined to add more aircraft to reach 40 units by the end of next year with an investment of around Rp 200 billion.
"The important thing is we increase the service to customers like us," she said.
Kamis, 22 Oktober 2009
Angop, Extraordinary Masterpiece
Previously we may never know there is a theory which states that angop caused depletion of oxygen levels in the body. But, yawning was still happening despite breathing 100% with oxygen. So, what exactly is causing this go on?
It turned out that even scientists do not yet know for sure what exactly triggered the angop behavior. Although long studied, the experts who live in the age of supercomputers and spacecraft technology proved so far only limited to just guess what the function of yawning.
This is a proof that human knowledge is not how much when compared with the Creator, Allah SWT. It was he who taught the science of man that which he does not know when people were researching all His creation, including angop. This was as the word of God in the Qur'an: "He taught man that which he does not know". (Surat al-Alaq, 96:5)
God is Aware, educate people with little knowledge of the curtain opened his possessed inherent in each of His creation. Therefore, humans gradually able to uncover signs of the Creator Lord of the universe, not least to know the secret behind evaporated.
Greatest cooling
Indeed, yawning is not a common occurrence. Instead, he is working the way that God created as a form of affection to His creatures. Simply put, what is often considered a marker of this sleep to function like the cooling fan on the computer processor so that it works remains vibrant.
As known, a computer will work well in cold temperatures. After a long work, the temperature will increase the computer processor. If the computer temperature is not lowered by the cooling fan, then this will reduce performance, even potentially lethal or damaging the computer.
Similarly, the human brain. It takes a special device to keep the brain temperature to avoid overheating, so as to keep functioning properly.
God who created man, of course, know best for what he created. According to Andrew Gallup, a scientist from Binghamton University, the exit temperature rising problems in the brain due to continue working can be overcome by intelligent cooling device named 'angop'.
The same way of working may also explain why people often evaporate when just waking up or fatigue. Yawn activity of the brain will make it easier to deal with transitional situations, such as from sleep to waking state (waking up).
As many as twenty birds are placed in room temperature can be regulated. Room temperature arranged in such a way that shows the three different temperature conditions, ie low temperature or the control (22 ° C), the temperature increases (22-34 ° C), and high temperature (34-38 ° C).
With long each state temperature for 21 minutes, the results justify the suspicion that the scientists examined. Based on observation, on the condition of temperature increases, the average per bird evaporated 4.20 times as much. While at high temperature and low temperature (control), respectively 2.05 and 1.25 occur angopan each tail. Number of angop in different circumstances is significantly different.
In conclusion, this study scientifically prove allegations that yawning is a way to regulate the temperature inside the brain.
Goodness of God
That's a quick picture of the function of yawning. Thus, opening the mouth which by some well regarded as a sign of boredom is not just a draw oxygen from the atmosphere. More than that, he was the secret of the Creator to prevent the failure of the human brain from functioning properly.
Allah, the Most Understanding the needs of the organs of his body servant, a clever creating a process that every organ telling the prime function. It was he who had made evaporated as the brain's thermostat to always work perfectly.
This scientific information is also reversed the previous assumption, namely that believe that yawning is a sign of drowsiness. Conversely, a cooling process angop brain to stay awake. With it, human beings can stay focused, including when reading this article.
It's fitting that a weak human being grateful for all the favors of Allah. Indeed, He is a constant human care, including the affairs of this angop, so that his brain still work as possible. This is because God never fails, let alone sleep, in the care of creatures created by Him. In the noble Qur'an, Allah says:
"God, there is no God (that exists) but Him, the Eternal life more continuous care (His creatures); not sleepy and did not sleep. Him belongs what is in the heavens and the earth. Nothing that can intercede with Allah without His permission. God knows what is before them and behind them, and they do not know nothing of science except what Allah wills. Chairs of God covers the heavens and the earth. And God does not feel heavy to maintain them, and Allah is High, the Great ". (Surat al-Baqara, 2:255)
Must Think Success from the Start
Important note for true entrepreneurs are beginning to
think success. Only in this way, businesses can further continue
developed.
Message from Brad Sugars caliber figure like these
that would be obtained by businesses in the country. According to the plan,
leading business coach from Australia is coming to Jakarta on Wednesday
(25/11) and Thursday (26/11) and became the main speaker seminar "Brad
Sugars Billionare in Training ".
According to the CEO of Action COACH
Herman Susanto Indonesia on Tuesday (28 / 7), who started his career Sugars
business since the age of seven years will help business owners in
Indonesia in order not to lose strategy achieving the vision and mission
expected. Total, 6000 participants are expected to be present during
performances both days.
Currently, Brad Sugars has
transformed into an admired business leader by the owners
business. He was still young, but his success print "millionaires"
ActionCOACH has been raised by her name in the ranks of the most
influence the world, such as Rupert Murdoch, Henry Ford, Richard Branson,
and Anita Roddick.
Sugars success helping business owners. In particular, when doing business system reform.
Business Training (Business Coach)
claim, the owner's full name Bradley J Sugars claim using
different approach than in general. In this business, just
bisnislah owners who do all the strategies, formulas and techniques
The recommended business business coach.
According to Sugars, a business coach's biggest aid to their students are following a successful mindset monitoring system (monitoring) effectively. If the mindset
employers become more positive, things are also changing
be positive. Including the corporate and financial conditions in
finally.
After completing school at the University of Queensland,
Sugars become "serial entrepreneur" and become the owner or
parties who run more than 30 different business activities.
Sugars is the founder of ActionCOACH business coaching franchise in 1993. In 2006, he had to rebrand the ActionCOACH business.
While in the country, ActionCOACH Indonesia until now have 28 coaches
business. In the first year, ActionCOACH Indonesia has 12 clients who
then grew to more than 1,000 clients in 2009.